Cuaca Kalsel Kritis

Banjarmasin, KP – Kemarau panjang menyebabkan cuaca Kalsel kritis, sehingga rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan, yang berpotensi menimbulkan kabut asap,  dan mengganggu aktivitas masyarakat di daerah ini.

“Kondisi Kalsel sekarang sudah sangat kritis dengan kemarau panjang ini,’’ kata Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, H Rachmadi Kurdi kepada wartawan, di sela paripurna istimewa, Senin (13/10), di Banjarmasin.

Hal ini terlihat dari jumlah hotspot (titik api) yang terpantau hingga 6 Oktober lalu mencapai 1.135 titik, atau terjadi penambahan 237 titik selama enam hari pada Oktober. Sementara pada September lalu mencapai 650 titik.

“Ini sudah sangat mengkuatirkan, karena banyaknya terjadi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalsel,’’ jelasnya, pada paripurna dengan agenda pengucapan sumpah/janji pimpinan DPRD Kalsel periode 2014-2019.

Bahkan hingga 13 Oktober ini, diperkirakan terjadi penambahan jumlah titik api yang cukup signifikan, mengingat kondisi udara yang dipenuhi kabut asap.

“Kelihatannya peningkatan kebakaran hutan dan lahan ini semakin tinggi, dilihat dari tebalnya kabut asap, yang sudah menganggu aktivitas masyarakat,’’ ungkap Rachmadi.

Menurut Rachmadi, kondisi semacam ini hanya bisa diatasi dengan hujan buatan ataupun water booming, untuk mematikan titik api, yang disebabkan kebakaran hutan dan lahan.

“Kalau kita, sulit melakukan kegiatan pemadaman ini, jika hanya mengandalkan petugas Mandala Agni,’’ tegas mantan Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kalsel ini.

Namun, dengan adanya Masyarakat Peduli Api (MPA), diharapkan bisa cepat mengatasi kebakaran yang terjadi, dimana 70 MPA yang tersebar di wilayah Kalsel dapat memantau kebakaran dan melaporkanya kepada Mandala Agni terdekat. “Kita harapkan bisa cepat mengatasi kebakaran yang terjadi,’’ ujar Rachmadi.

Sementara itu, Gubernur Kalsel, H Rudy Ariffin mengatakan telah meminta pelaksanaan hujan buatan di daerah ini, ataupun water booming, untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan yang terjadi.

“Namun kelihatannya permintaan ini masih belum bisa dipenuhi pemerintah pusat, khususnya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),’’ kata Rudy Ariffin, usai paripurna istimewa.

Hal ini dikarenakan kondisi cuaca tidak memungkinkan hujan buatan, dan menunggu giliran, setelah provinsi lainnya. “Kita berharap Kalsel mendapatkan giliran hujan buatan ataupun water booming, setelah dilakukan di Kalteng,’’ ujarnya.

Untuk itu, pihaknya berupaya sebisa mungkin mengatasi kebakaran yang terjadi, serta mencegah masyarakat membakar lahan untuk kegiatan apapun, termasuk mengenakan sanksi tegas.

“Kita mengharapkan agar kebakaran hutan dan lahan bisa diminimalisir, mengingat kemarau panjang masih berlangsung hingga November mendatang,’’ jelas Rudy Ariffin.

~ oleh Narti Kalimantan Post pada Oktober 15, 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: