Indonesia Potensial ‘Pasar Besar’ Perderan Narkoba

[] BNN Gandeng Organisasi Lokal Tangani Pencadu

 Banjarmasin, – Badan Narkotika Nasional (BNN) mengakui negara Indonesia menjadi sasaran perdagangan gelap narkotika,karena dengan jumlah penduduk yang besar maka pasar barang haram itu menjadi potensial.

 

Deputi Rehabilitasi BNN, Dr Kusman Suriakusumah, Spkj,MPH  kepada [[wartawan]}, di Banjarmasin, Selasa (26/8)  usai acara acara fucos,group Discussion Rehabilitasi Adiksi Berbasis Masyarakat di Sarana Krida Karang Taruna (SKKT) Alalak Utara Kota Banjarmasin, mengatakan potensial ini pasar di Indonesia terbuka karena kondisi ekonomi membaik dan banyak permintaan.

 

Jadi, katanya, karena itulah BNN penguatan lembaga rehabilitasi komponen masyarakat di wilayah Banjarmasin diajak bersama-sama untuk melakukan pecegahan hingga penyembuhan hingga pendampingan.

 

Menurut Kusman, Indonesia dinilai pasar potensial selain memang jumlah penduduk begitu besar juga secara geografis terbuka dari segalapenjuru sehingga memudahkan para bandar narkotika menjual barang berbahaya tersebut ke masyarakat Indonesia.

 

Selain itu penduduk Indonesia khususnya generasi muda dinilai begitu mudah terguyah oleh kegiatan penyalahgunaan narkoba.

 

Akibat dari berbagai hal tersebut mengakibatkan peredaran narkoba di Inodonesia menjadi yang nomor lima didunia, katanya didampingi

 

Ahwil Lutan seorang konsultan ahli BNN.

 

Berdasartan catatan BNN, jumlah pecandu narkotika di Indonesia antara 3,8 juta orang hingga 4,2 juta orang,sementara pecandu narkotika di Provinsi Kalsel, dekitar 4000 orang.

 

Menurutnya, melihat begitu banyak pecandu narkoba diperlukan penanganan bukan saja menangkal peredarannya sekaligus bagaimana merehabilitasi para pecandu tersebuit agar tidak merudikan semua pihak.

 

Sebab seorang pecandu narkoba kalau sudah berada di tahap yang mengkhawatirkan bisa bunuh diri, atau bisa membunuh orang lain.

 

Selain itu pecandu narkoba bisa berubah kejiwaannya, karena sifat narkoba adalah merusak,oleh karena itu bila ada sepasang suami isteri yang sudah kecanduan narkoba umpamanya saja jenis sabu-sabu tak mungkin bisa rukun, karena mereka pasti saling mencurigai.

 

Melihat dampak-dampak itu maka sudah sewajarnya semua pihak terlibat dalam hal rehabilitasi ini, termasuk pemerintah daerah yang seyogianya meanggarkan dana APBD yang lebih besar dalam kegiatan tersebut.

 

“Kalau Pak Gubernur atau Walikota banyak berbicara mengenai penanganan narkoba, tetapi tidak bersedia meanggarkan dana APBD yang cukup besar, maka pembicaraan tersebut bisa dikatakan omong kosong” tuturnya.

{[Gandeng Lingkaran Biru]}
Guna memulihkan penyalah guna Narkoba masih menjadi misi utama Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam upaya mewujudkan Indonesia Bebas Narkoba Tahun 2015. Serangkaian kegiatan dukungan berbentuk Focus Group Discussion (FGD) dilakukan oleh Deputi Rehabilitasi BNN merata di seluruh wilayah Indonesia.
Pada kegiatan yang dihadiri oleh instansi terkait dan lembaga rehabilitasi berbasis masyarakat ini menghadirkan narasumber dr. Kusman Suriakusumah, SpKj, Deputi Bidang Rehabilitasi BNN, dan Bapak Ahwil Lutan, Kelompok Ahli BNN.
Dalam diskusi ini, dr. Kusman Suriakusumah, SpKj, mengharapkan agar pihak Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, Pemerintah daerah, BNNP Kalimantan Selatan, BNNK Banjarmasin, BNNK Banjarbaru, dan komponen masyarakat lainnya menyamakan presepsi tentang penanganan korban penyalahgunaan Narkoba. Selain itu ia juga mengajak seluruh peserta diskusi untuk peduli dengan korban penyalahgunaan Narkoba.
Menurut  Ahwil Lutan, Narkotika bagaikan dua sisi ekonomi, yaitu supply reduction dan demand reduction. Artinya penegakan hukum dan pemulihan pecandu harus seimbang. Pemberantasan Narkoba gencar dilakukan dan penyalah guna Narkoba juga dirangkul untuk menjalankan program rehabilitasi. Dengan demikian pencegahan dan pemberantasan Narkoba di Indonesia tidak akan sia-sia.
Pada FGD ini, BNN memberikan dukungan penguatan lembaga rehabilitasi komponen masyarakat kepada Yayasan Lingkaran Harapan Banua senilai Rp 15.750.000,-. Dukungan tersebut berupa pembiayaan konseling, asesmen, rujukan, dan pelaporan; peningkatan kompetensi dalam penyusunan SOP untuk meningkatkan pelayanan rehabilitasi; peningkatan kompetensi konselor adiksi bagi petugas; dan bimbingan teknis untuk meningkatkan pelayanan rehabilitasi sesuai standar pelayanan minimal.
Mengapa Lingkaran Harapan Banua? Menurutnya, Yayasan Lingkaran Harapan Banua merupakan sebuah lembaga sosial yang peduli dengan masalah penyalahgunaan Narkoba. Yayasan ini merupakan alat perjuangan bagi para korban penyalahgunaan Narkoba untuk mendapatkan hak-haknya dan melaksanakan kewajibannya sebagai korban, sebagaimana tercantum dalam UU No. 35 Tahun 2009 Pasal 5 ayat 1, 2, dan 3, tentang Narkotika.
Sedangan Minik Penanggungjawab Lingkaran Harapan Banua bergerak dalam upaya preventing, reveral, education, dan upaya bertahan (clean and sober). Yayasan ini dengan terbuka menerima korban penyalahgunaan Narkoba yang ingin sembuh dan kembali pada kegiatan positif sehingga mereka terlepas dari jerat Narkoba.
Dengan dukungan penguatan lembaga rehabilitasi komponen masyarakat ini, BNN berharap dapat menginisiasi kelompok masyarakat lainnya agar peduli dengan korban penyalahgunaan Narkoba, sehingga semakin banyak korban penyalahgunaan Narkoba yang termotifasi dan terfasilitasi untuk melakukan rehabilitasi.

~ oleh Narti Kalimantan Post pada Agustus 29, 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: