291 Jembatan Masih Kayu
Pemko Hanya Bisa Memperbaiki 2 Jembatan Pertahunnya
Banjarmasin, KP – Sebagai kota yang penuh dengan alur-alur sungai kecil maupun besar, secara otomatis Kota Banjarmasin juga dipenuhi jembatan-jembatan sebagai penghubungnya. Terhitung, 411 buah jembatan tersebar di Kota Berjuluk Kota Seribu Sungai ini. Namun sekitar 71 persennya atau 291 buah jembatan masih berkonstruksi kayu ulin yang rata-rata umurnya diatas 20 tahun.
Menurut Kepala Dinas Bina Marga Kota Banjarmasin Ir H Nurul Fajar Desira Ces, jembatan-jembatan yang masih berkonstruksi kayu tersebut sudah sangat perlu untuk diperbaiki atau direnovasi dengan konstruksi yang lebih kuat secara beton, sekaligus meninggikannya. “Sebab, selain sudah mulai rapuh dimakan usia, jembatan-jembatan itu juga mulai sulit dilalui sejumlah trasportasi sungai,” ujarnya kepada wartawan.
Pasalnya, kata Fajar, sebagai upaya menjadikan Banjarmasin dengan keunikan sungainya sebagai pariwisata dimasa depan, trasportasi sungai perlu dihidupkan kembali untuk penunjangnya. “Tentunya jembatan-jembatan yang menyeberangunya harus menjadi perhatian untuk kelancarannya,” ucap Fajar.
Disebutkan Fajar, hampir seluruh jembatan yang ada saat ini ketinggiannya tidak standar lagi. Sebab, dibawah 2,5 meter dari atas permukaan air. “Edealanya jembatan-jembatan itu tingginya 2,5 meter atau 3 meter diatas air, terutama jembatan-jembatan yang menyeberangi sungai utama, yakni, sungai Martapura,” bebernya.
Sementara itu, Kabid Jembatan Dinas Bina Marga Kota Banjarmasin Usni Erral menyatakan, setiap pembenahan atau renovasi jembatan yang dilakukan pemkot, dilakukan juga peninggiannya. “Tapi tetap sesuai standarnya, sebab kalau terlalu tinggi akan berpengaruh pada oprit jembatan tersebut,” terangnya.
Dikatakannya, ada beberapa jembatan yang menjadi prioritas diperbaiki atau direnovasi dari jembatan kayu kebeton. Namun pada tahun ini, hanya pemkot hanya bisa menganggarkannya untuk dua jembatan, yaitu jembatan Rawasari dan Pemurus. Bahkan pembangunannya dikerjakan secara multiyears hingga 2012.
Sebab, katanya, dengan alokasi dana sebesar Rp 12 miliar pertahunnya untuk perbaiakn dan pemeliharaan jembatan dari alokasi anggaran Rp 80 miliar lebih yang didapatkan Dinas Bina Marga dari APBD 2011 ini. Tentunya tidak mampu mengcover semua jembatan untuk diperbaiki. “Bahkan tahun akan datang, bisa stop dulu membangun jembatan baru sebelum selesai Jembatan Rawasari dan Pemurus itu,” akunya.
Pasalnya, pembangunan kedua jembatan tersebut dari kayu menjadi beton, menelan dana lebih besar dari dana yang dialokasikan, yakni, pembangunan Jembatan Rawasari menelan anggaran Rp 8,5 miliar, sedangkan Jembatan Pemurus menelan dana sebesar Rp 6,5 miliar. “Terpaksa pembangunan jembatan tersebut dianggarkan dua periode, sebab sebagian dana diperuntukkan sebagai perbaikan jembatan lainnya,” ujarnya. Seraya mengungkap, jembatan yang lainnya hanya dapat dilakukan perbaikan tambal sulam alias diaman yang rusak hanya itu yang dapat diperbaiki sementara.
Diungkapkannya, jembatan yang semestinya segera pula diperbaiki dantaranya yakni, jembatan Ampera Basih dengan panjang 40 meter, Jembatan Karamat panjang 25 meter, Jemabatan Sulawisi II sepanjang 25 meter, dan Jembatan Kuin Selatan sepanjang 15 meter. “Sebab, jembatan-jembatan ini sudah cukup padat dilalui, tapi konstruksinya sudah mulai rapuh ketuaan,” ujarnya.
Menurut kesemua jembatan tersebut sudah perlu dibongkar dan diganti, sebab, kondisi bawah jembatan tersebut sudah cukup rawan menahan beban berat yang melewatinya. “Memang kelihatan mulus diatasnya, tapi kalau diperhatikan bawahnya sudah menghawatirkan,” ucap Usni.
Menurutnya, jembatan terbayak ada di daerah Banjarmasin Utara dan Selatan. “Secara keseluruhan jembatan-jembatan di daerah kita masih 75% kayu, 19% sudah beton, 2,5% rangka baja, dan 3,5% jembatan beton panjang,” ungkapnya.(vin)





