2015 BAB Sembarangan Harus Tak Ada Lagi
[]Work Shop Firkalim Berakhir
Banjarmasin, KP – Direktur Perusahaan Daerah Pengelolaan Air Limbah (PD PAL) Kota Banjarmasin H Muhidin optimis untuk bisa menghilangkan kebiasaan masyarakat Banjarmasin untuk tidak BAB (buang Air Besar) sembarangan lagi pada 2015 nanti.
“Kita menargetkan ke depan bagaimana caranya agar tidak ada lagi masyarakat kita yang BAB sembarangan,”ujar Muhidin usai penutupan {{work shop}} Forkalim Seindonesia, di Garna mentari, Jumat (29/10).
Dikatakannya, komitmen tersebut tidak hanya untuk menciptakan lingkungan sehat dengan menjaga sanitasi lingkungan, namun Forkalim menilai BAB sembarangan yang terjadi di Banjarmasin serta kota-kota lain di Indonesia masih terjadi.
“Jadi sasarannya tidak hanya BAB sembarangan tersebut tidak hanya pada BAB yang dilakukan oleh masyarakat yang berada di pinggiran sungai atau jamban, namun BAB sembarangan pun terjadi juga dari rumah-rumah dimana septik tank mereka masih dengan sistem coblok,”terangnya.
Upaya untuk mencapai target tersebut, tidak hanya akan melakukan sosialiasi untuk merubah pola pikir dan kebiasaan masyarakat. Namun PAL pun siap melakukan kampanye gila untuk menarik minat masyarakat.
“Kita akan surai langsung ke masyarakat, dari situ kita akan sharing bagaimana seharusnya agar masyarakat pun tertarik untuk tida BAB sembarangan dan perbaikan sanitasi lingkungan rumahnya,”ujarnya.
Untuk inipun, PAL pun tetap akan melayani masyarakat miskin dimana pihaknya pun tetap akan menbangunkan MCK plus ataupun pemasangan langsung ke rumah-rumah.
Sementara itu Kasubdid Air Limbah Direktorat Penyehatan Lingkungan dan Pemukiman Kementrian PU Ir Handy B Legowo mengatakan, sejauh ini sudah 11 kabupaten kota yang memiliki sistem pengelolaan Air limbah yang baik (PDA PAL). Daerah tersebut terdiri dari kota Medan, Prapat, Tanggerang, Jakarta, Bandung, Yogya, surakarta, Denpasar, Cirebon, Banjarmasin dan Balikpapan.
Namun sayangnya dari sejumlah daerah tersebut, rata-rata pemanfaatan masyarakat terhadap sistem pengelolaan limbah secara nasional masih sangat minim yakni berkisar 2- 3 persen saja.
“Sehubungan masih kurangnya kesadaran masyakat kita tentang sanitasi di rumahnya, selain itu masyarakat pun masih enggan membayar tarif perbulan,”ungkapnya.
Oleh karena itulah, melalui Forkalim ini ditargetkan agar percapaian pemasangan sanitasi tersebut lebih ditingkat dan terus bersinergi. “Paling tidak lebih dari 40 persen ditingkatkan, namun upaya pencapian tersebut masih perlu dana pendukung oleh pemda baik itu pemprov dan pemko untuk membantu biaya operasional dan penyambungan,”jelasnya.(vin)





