Pembuatan Bubur Asyura Masih Mentrandisi di Banjar
Banjarmasin, KP – Pembuatan bubur asyura masih menjadi tradisi sebagian kaum Muslim di Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel) setiap tanggal 10 Muharram atau bulan Syura.
Pembuatan bubur asyura itu umumnya dilakukan kaum ibu dengan bergotong royong dan untuk penyediaan bahan bakunya juga dengan cara bersama-sama seperti di Komplek Mahligai, Kelurahan Sungai Jingah Banjarmasin, Minggu (27/12) sejak pagi sampai siang hari.
Peringatan Hari Asyura atau 10 Muharram 1431 Hijriah yang bertepatan dengan 27 Desember 2009, kembali membuat kesibukan sebagian kaum ibu kalangan Muslim, untuk membuat bubur asyura.
Bahan baku utama bubur asyura tersebut, berupa beras, yang kemudian dalam memasaknya dicampur dengan berbagai bahan makanan lain, seperti kacang-kacangan dan sayuran, sehingga bagaikan Bubur Manado.
Bubur asyura itu sesudah masak, warga dalam kelompok masyarakat tersebut memakannya secara bersama-sama pula, dengan memanggil kaum laki-laki, sekaligus membaca doa, memohon keselamatan dari Allah SWT.
Pembuatan bubur asyura, untuk mengenang dan sekaligus mengambil hikmah dari berbagai peristiwa bersejarah bagi kaum Muslim di dunia sejak Nabi Adam alaihi salam (AS), manusia pertama yang diciptakan Allah SWT hingga kenabian Muhammad SAW, rasul terakhir sampai akhir zaman.
Dalam sejarah besar bagi umat Islam yang berkaitan 10 Muharram tersebut, antara lain, pengampunan Allah SWTt terhadap Nabi Adam AS yang melanggar larangan makan buah khuldi, pada hari asyura.
Begitu pula diselamatkannya Nabi Ibrahim AS dari pembakaran Raja Nambrut serta Nabi Musa AS dari kejakaran tentara Fir’aun, seorang raja yang zalim lagi lalim itu, pada hari asyura. Selain itu, diselamatkannya ka’bah dari serangan tentara bergajah yang ingin menghancurkan “baitullah” (Rumah Allah), juga pada hari asyura.
Sementara itu, sejumlah ulama atau pemuka agama Islam, mengingatkan, pembuatan bubur asyura bukan perintah Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW, tapi hanya sebuah tradisi.
Oleh karena itu, ujar Guru Agama Fatul yang tinggal di Kompel Mahligai, mengingatkan, kaum Muslim berhati-hati menyikapi hari asyura ataupun niat dalam pembuatan bubur asyura agar jangan sampai menimbulkan kesyirikan atau kemusyrikan.(vin)





